SEMPITNYA LAPANGAN KERJA DI INDONESIA (?)
Dari dulu sekali kata-kata "Lapangan kerja di Indonesia sangat sempit" sering mendarat di telinga saya. Ntah itu dari guru, orang-orang di lingkungan sekitar dan berita-berita di TV. Bukan hanya indra pendengaran saya yang menjadi saksi bisu, matapun ikut melihat jajaran kata-kata itu tertulis di koran-koran, majalah-majalah bahkan buku pelajaran di sekolah.
Kepala dan hati saya mengangguk saja kala itu. Mengiyakan fenomena yang terjadi di tanah air tercinta. Kemudian berpikir betapa menyedihkannya negara yang amat kaya ini, kalo kata orang kayu saja ditanam bisa jadi pohon. Kemudian saya bertekad di masa depan saya harus jadi orang sukses kemudian membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya. Agar tak ada lagi rakyat yang sengsara karna tidak punya kerja.
Tapi...
Pola pikir ini berubah ketika saya melihat sendiri seiring berjalannya waktu bagaimana dunia kerja itu 'bekerja'.
Pertama,
apapun jenis pekerjaan bisa menjadi sumber penghasilan yang besar. Meskipun itu hal yang dianggap sepele. Saya sering termenung jika melihat orang-orang dengan pekerjaan tidak lazim dan dianggap sebelah mata, memiliki penghasilan yang bahkan lebih dari cukup untuk kebutuhan mereka sehari-hari. Penjual arang kelapa misalnya. Suatu ketika saya menemi Ibu saya membeli arang kelapa ke sebuah rumah yang tidak jauh dari pusat kota. Sebelum sampai di rumah tersebut, dari kejauhan saya sudah melihat banyak tumpukan batok kelapa yang tersusun di sekitiaran jalan. Menunjukkan kalau usaha batok kelapa ini sudah agak besar karna memiliki stok yang banyak.
Ketika sampai didepan rumah dan bertemu dengan penjualnya-seorang ibu paruh baya berusia hampir setengah abad- mamaku mulai berbincang dengan beliau. Awalnya percakapan basa-basi, kemudian berlanjut ke pembahasan stok si ibu yang menipis sehingga mama saya tidak bisa membeli dalam jumlah banyak karna sudah ada pesanan dari pelanggan yang lain. Aku heran tumpukan di depan rumah ibu ini dalam pandanganku sudah sangat banyak, dan beliau masih berkata itu tipis. Aku mulai menganalisa, berarti permintaan pasar terhadap arang kelapa ini sudah sangat banyak melebihi kemampuan produksi penjualnya. Kalo dipikir-pikir cuma arang, batok kelapa yang dibakar hingga gosong, tapi menghasilkan uang. Bahkan orang yang tidak sekolah dari lahir pun bisa melakukan usaha ini.
Kedua,
DUNIA KERJA BUTUH SKILL dan MANUSIA YANG BERILMU
Lanjut cerita ibu penjual arang tadi, beliau juga bercerita alasan kenapa arang yang dihasilkan tidak bisa mencukupi kebutuhan pasar. Penyebabnya adalah 'TIDAK ADA ORANG YANG MEMILIKI KEAHLIAN MEMBAKAR BATOK KELAPA' sesuai kualifikasi yang diinginkan. Dalam hati saya bergumam 'WOW! Bahkan membakar batok kelapa saja butuh skill!'. Sebuah perkerjaan yang tidak pernah terlintas di kepala saya. 'Ahli Pembakar Batok Kelapa'. Si Ibu bercerita panjang lebar tentang proses pemakaran batok ini. Dari penjelasaan beliau yang detail saya paham, ada banyak step yang tidak bisa dilakukan sembarang orang. Seperti tingkat kematangan arang, jika suhu pembakaran terlalu tinggi maka batok kelapa akan rapuh dan mudah hancur sehingga jumlah arang yang dihasilkan akan berkurang. Jika suhu tidak terlalu panas untuk mebakar, maka arang akan menjadi setengah matang dan berasap ketika di gunakan sehingga merubah bau masakan dan mengganggu pernapasan. Sehingga usaha si ibu ini belum bisa berkembang karna tenaga kerja yang dipunya hanya 2 orang, beliau sendiri dan suaminya.
Tiga, SABAR dalam menjalani pekerjaan
Punya ilmu tinggi atau skill dewa boleh bangga. Tapi kalau tidak punya karakter siap-siap hengkang dari dunia kerja. Belajar dari pengalaman di tempat usaha Papa saya, sampai saat ini masih banyak hal yang harus dibenahi termasuk karyawan. Dulu ketika baru launching-kebetulan usahanya adalah tempat makan- ada 3 orang karyawan. Masing-masing karyawan ini punya spesialisasi, yang pertama juru masak, yang kedua pelayan di depan, yang ketiga cuci piring dan persiapan dapur. Anggap saja namanya A, B dan C. Si A setelah beberapa bulan bekerja terlihat mulai tidak disiplin, dengan berbagai alasan, selang beberapa hari kemudian A memustuskan untuk berhenti dan memilih jadi buruh tani saja. B orangnya semangat, komunikatif, akti sehingga menjadi andalan Papa, tapi ntah kenapa beberapa bulan bekerja B meminta izin berhenti bekerja dengan alasan disuruh kakaknya menjaga ponakannya di kota Padang. Terakhir C, kerjanya biasa saja bahkan terkesan lamban, tapi ternyata dia yang paling sabar dan masih bekerja sampai saat ini. Otomatis dari 3 orang ini sekarang 2 diantaranya sudah tidak mempunyai pekerjaan tetap.
'Seriously, sampai sekarang Papa masih dalam proses mencari karyawan. Dan sungguh rasanya lebih susah mencari orang yang ingin dipekerjakan dari pada mencari lapangan kerja itu sendiri.'Setelah bercerita ke beberapa orang saya mendapatkan alur yang serupa, masalahnya hanya berputar-putar disitu-situ saja, Sumber Daya Manusia itu sendiri. Saya yakin masih banyak diluar sana 'Ibu Penjual Arang' atau 'Papa Saya' yang lain. Lapangan perkerjaan tesebar dimana-mana. Tapi dimana-mana juga saya masih sering mendengar teriakan-teriakan tuntutan kepada pemerintah agar segera mebuka lapangan kerja. Saya rasa jika membuka lapangan kerja untuk mensejahterakan rakyat tanpa diiringi peningkatan SDM sendiri sama dengan memproduksi mobil tapi tidak punya stok bensin.
Hingga akhirnya saya menarik kesimpulan,
'Indonesia bukan kekurangan Lapangan Pekerjaan, melainkan Sumber Daya Manusia yang Layak untuk dipekerjakan'
Saya sendiri masih berstatus Mahasiswi di kolom 'Pekerjaan' KTP saya. Jadi ini analisa saya pribadi sebagai pengamat bukan sebagai pelaku :)
jadi bertanya-tanya 'apakah diri saya sendiri sudah layak?'
:')
jadi bertanya-tanya 'apakah diri saya sendiri sudah layak?'
:')

Komentar
Posting Komentar