Ignore the noise, focus on your work

Dulu, ketika saya masih galau dengan jati diri saya, sekitar setahun atau 2 tahun yang lalu, saya selalu membatin, apakah benar jalan yang saya ambil sekarang? Ketika dari hati terbisik bahwa saya akan lebih baik tumbuh di jurusan tetangga, maka rasa cinta saya ke jurusan yang sedang saya jalani ikut luntur. Lingkungan pun ikut menggoyahkan batin saya, banyak yang bilang 'kamu harusnya ambil DKV dari awal' atau 'kamu jurusan interior? Kok feed igmu gaada interiornya sama sekali?'.

Sempat hampir satu semester saya merasa putus asa dengan kuliah yang saja jalani, rasanya berat sekali setiap mengerjakan tugas interior, rasanya selalu terbebani dan tertekan, sampai saya berpikir 'sanggup ga ya nyelesain kuliah kalo gini beratnya?'. Setiap pertanyaan itu muncul saya mencoba berpikir jernih, 'Liat ti kaka-kaka yang udah wisuda, ga semua dari mereka benar2 bercita-cita jadi interior designer, pasti ada yang seperti kamu juga atau bahkan mungkin lebih, tapi toh pada akhirnya setelah berjuang mereka lulus juga. Itu artinya kamu juga pasti kuat. Nikmati saja dulu prosesnya, mana tau ntar di tengah jalan jadi suka :)'

Sebenarnya untuk masalah perkuliahan saya masih bisa mengikuti bahkan mendapat nilai yang memuaskan. Tapi itu semua tidak berarti banyak ketika saya mulai lagi membayangkan jika saya berada di jurusan tetangga. Mengerjakan tugas seperti apa yg mereka kerjakan. Menggambar karakter-karakter lucu, ilustrasi, digital painting, dan banyak hal lainnya.

Dan begitu terus, setiap kejenuhan manghampiri saya berusaha untuk ttp berpositif thinking, meyakinkan diri bahwa saya pasti bisa melewati semua ini.  Untuk menghibur kegalauan saya ikut banyak sekali workshop, hampir setiap minggu saya ikut workshop, mulai dari watercolor, lettering, digital, pokonya saya ikuti semua yang sesuai dengan keinginan hati saya.

Waktu luang banyak saya habiskan untuk mengasah kemampuan manual sketch, watercolor, flat design, ilustrasi. Hingga secara tidak sadar sudah lumayan banyak karya yang terkumpul dan saya memutuskan unt mendokumentasikan nya di akun instagram.

Kemudian dari semester ke semester saya tetap menjalani hobi saya, dan memasrahkan diri untuk tetap lanjut di interior. Pada semester ke 6, kegalauan saya mulai mereda, saya mulai menikmati status menjadi mahasiswi interior, tidak ada galau-galau lagi, dan secercah rasa cinta mulai tumbuh haha :'D mengerjakan tugas mulai terasa menyenangkan.

Saya mulai membulatkan tekad untuk fokus di interior, dimulai dengan mengupgrade skill saya di bidang interior digital. Jadilah selama liburan, kurang lebih 1 bulan saya mencoba belajar lewat tutorial youtube. dan kadang bertanya ke beberapa teman saya yang sudah jago. Setelah saya berusaha dan belajar, Alhamdulillah saya yg gaptek :') perlahan-lahan mulai menguasai perdigitalan dan hasilnya lumayan memuaskan.

Dan sekarang ketika menjalani masa magang, ada banyak hal yang membuat saya tersadar. Apa-apa yang saya usahakan ternyata tidak ada yang sia-sia. Hobi saya dalam bidang desain grafis, yang banyak pro-kontra dr berbagai pihak (bahkan jga ada yg bilang karya yg saya punya tdk bisa dipakai unt portofolio kerja interior karna kebanyakan ilustrasi) ttp berguna. Bahkan saya tertolong olehnya. Perusahaan membutuhkan SDM yang mempunyai skill. Dengan mengerjakan tugas-tugas kuliah saja tidak akan cukup untuk membuatmu memiliki karya.

 Ketika ditanya apa keahlian yang kau punya, tugas kuliah tak akan pernah cukup kuat untuk menjawab pertanyaan tsb.

Dan itu baru akan terasa ketika di dunia kerja.
Tadi contohnya, tiba-tiba direktur perusahaan meminta semua anak magang memperlihatkan portofolio terbaik yang kami punya karna kami akan dibagi menjadi beberapa divisi. Ada 3D render, graphic design, animasi, video editing, photography, drone, lumion dan interior/eksterior animation. Selain tugas-tugas umum interior yg diberikan kami jga akan dimaksimalkan dalam potensi yang kami punya.

Merasa cukup banyak mengumpulkan karya desain grafis, saya memustuskan untuk menunjukkan portofolio poster-poster yang pernah saya buat.

Dan alhasil dari 15 orang hanya ada 5 org yang dimasukkan ke dalam divisi-divisi tadi. Sedangkan 10 orang lagi harus mendapat bimbingan khusus dari manajer agar segera memiliki kemampuan yang memadai sebelum turun langsung bekerja.

Alhamdulillah saya termasuk ke dalam 5 orang tadi. Yang kalo bapak direktur bilang nilainya 'A' di divisi yang saya ajukan. Disana saya berfikir usaha saya dalam menekuni hobi ternyata tidak sia-sia. Waktu yang saya habiskan untuk beljar secara otodidak, menonton dari youtube, serta mencari mentor sebaya dari kalangan teman-teman , bahkan ikut workshop kesana-kemari+ judge kurang mengenakkan dari lingkungan terbayar sudah.

Mungkin awalnya pahit, tapi yakinlah rasa itu pada akhirnya akan tergantikan dgn hasil yg manis :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NIRMANA DWIMATRA

Teknik Komunikasi Interior

MATA KULIAH SEMESTER 1 DAN DUA DESAIN INTERIOR TEL-U